Senin, 11 Mei 2015

Jugijagijuk

Revisian yang dibuat minggu lalu hilang entah kemana. Padahal mau dipake bimbingan pagi ini. Terus ini dari tadi melototin laptop tapi belum ngetik apa-apa. Masih mikirin tentang main problem. Tik tok tik tok. Dan waktu pun terus berjalan.

Selasa, 03 Februari 2015

Rumah

Sebagai anak orang Batak tulen, saya ga pernah ngerasa jadi orang Batak. Secara sejak lahir sampai lulus SMA saya tinggal di Manokwari, Papua Barat. Waktu itu namanya masih Irian Jaya. Terus ganti jadi Irian Jaya Barat. Lalu ganti lagi jadi Papua Barat, sampai sekarang.

Yang Batak itu papah mamah saya. Saya engga. Saya ini entahlah orang apa. Bahasa dan adat istiadat orang Batak saya ga tahu sama sekali. Masakan khas sana pun saya jarang makan dan ga bisa memasaknya (ini alibi. Cara lain untuk bilang "saya belum bisa masak macem-macem"). Di rumah papah dan mamah jarang bicara bahasa Batak. Mereka hanya akan bercakap-cakap pakai bahasa Batak kalau mau bikin percakapan tersembunyi dari anak-anaknya. Semacam kode-kodean, istilah kekiniannya. Di rumah kami bicara bahasa Indonesia. Yang tentu saja diselingi ucapan "kau kau" ala Batak oleh papah.

Tapi tinggal di Papua sejak lahir pun engga bikin saya jadi bisa bahasa Papua apalagi mengikuti adat istiadatnya. Mungkin karena teman-teman sepermainan beragam suku bangsanya jadi kami engga terlalu terwarnai oleh budaya tertentu.

Maka saya tumbuhlah jadi orang yang tidak jelas. Semacam generasi muda Indonesia yang tercerabut dari akar budaya suku aslinya.

Saya menyadari itu waktu kuliah antropologi di semester 1. Waktu dosen menjelaskan bagaimana suku bangsa dan adat istiadat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dosen antropologi saya yang ganteng dan asli Tasikmalaya tapi mukanya kayak orang Arab itu mengomentari tentang fenomena anak-anak muda yang ga lagi kenal dengan budaya suku aslinya. Waktu itu beliau bertanya tentang asal daerah dan suku kami masing-masing, lalu seorang teman menjawab bahwa dia bingung jika ditanya "orang mana".

Iya ya.. Saya juga sebenarnya sering bingung kalau ditanya orang mana.

Ketika kuliah S1 5 tahun saya tinggal di Jawa Timur. Jadi kenal bahasa dan budaya Jawa Timuran. Lalu pindah ke Jawa Barat 2,5 tahun ini. Kenal juga dengan bahasa dan budaya orang Sunda. Disatu sisi saya ngerasa kaya, karena kenal berbagai budaya. Disisi lain ada yang hilang karena saya ngerasa ga punya satu akar budaya pun. Jadi, saya ini orang apa?

Suatu ketika saya tertegun pas nonton kang Emil diwawancarai di salah satu acara televisi. Beliau bilang "home is where your heart is". Pepatah Inggris. Rumah adalah tempat dimana hatimu berada.

Lalu saya mikir, Papua jelas bukan "rumah" saya. Rumah tempat tinggal orang tua mungkin iya. Tapi "rumah" tempat kembali? Tempat pulang? Tempat hati saya berada? Rasanya engga. Terus Sumatra, itu tanah kelahiran orang tua. Tapi itu juga bukan "rumah" bagi saya. Saya engga berbagi kenangan apapun dengan tempat itu, selain kenangan berlibur sesekali di sana. Jawa Timur. Itu pernah jadi sepenggal "rumah" tempat menuntut ilmu. Kontraknya hanya 5 tahun. Jawa Barat. Sekarang masih "rumah". Tempat menuntut ilmu juga. Tapi who knows kelak angin takdir akan meniup saya kemana.

Jadi, sampai sekarang saya masih mencari rumah. Menurut kamu sebaiknya dimana?

Berbeda Dalam Semua Kecuali Dalam Cinta

Melalui pengalaman yang masih sedikit ini, saya sering ragu, apakah perbedaan-perbedaan bisa berjalan bersisian? Terutama jika perbedaan itu begitu mendasar. Krusial. Esensial. Tauhidi.

Bisakah hari ini kita berdebat keras dengan seseorang, lalu besok kita duduk sebelah menyebelah dengannya sambil tertawa lepas? Bisakah kita begitu tidak sependapat dengan seseorang tentang satu hal, lantas bicara begitu kerasnya hingga mau pecah gendang telinga, tapi saat berikutnya kita bisa berdiri saling membela dengannya atas nama kebajikan yang kita sepakati bersama?

Tapi.. Hari ini saya mengerti.

Perbedaan akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi baik-baik saja. Pada akhirnya selalu begitu, bukan? Ketika segala daya ikhtiar basyari yang telah kita kerahkan tidak menghalangi kita dari pemahaman bahwa semua itu selalu bergantung pada irodahNya. Lalu kita insyaf bahwa lakum diinukum waliyadiin. Sebab "tidak ada paksaan dalam beragama" merupakan cara Allah meneguhkan hati para hamba, sekaligus melembutkannya untuk menerima bahwa memang tidak semua orang yang kita cintai pun mencintai agamaNya. Sekeras apapun usaha kita untuk menyampaikan, segala keputusan ada di tangan masing-masing orang.

Lalu pada akhirnya saya sadar, kita memang berbeda sejak awal. Dan akan terus berbeda dalam semua. Kecuali, dalam cinta..

Selasa, 23 Desember 2014

Resolusi 2015

Akhir tahun musimnya bikin resolusi. Saya juga ah. Biar jadi penyemangat.
1.       Sebelum lulus S2, bulan februari travelling dulu ke Padang, Pekan Baru, Palembang.
2.       Masukin naskah novel ke penerbit akhir februari 2015.
3.       Wisuda mei 2015. Otomatis ujiannya harus sebelum itu. Kalau bisa awal april udah ujian.
4.       Kalau plan A engga berjalan, saatnya untuk plan B. Stay di Bandung, mulai akhir april udah apply lamaran HRD. Atau ke Jakarta, dan kerja juga jadi HRD. Ke Jakarta males banget sebenarnya. Tapi untuk batu loncatan bolehlah setahun dua tahun. Kasih waktu 2 bulan untuk plan B ini.
5.       Kalau plan B engga jalan, saatnya untuk plan C. Sebelum ramadhan (juni 2015) pindah ke Jogja, ngurusin papah, menjalankan cita-cita buka toko sayur dan kue.
6.       Travelling ke Sulawesi bulan oktober 2015, 4 bulan setelah toko sayur buka.
.      Masukin naskah novel lagi ke penerbit november 2015.

Ceritanya Anak Psikologi

Hari ini rencananya saya mau bimbingan. Tapi dosen pembimbing rupanya lagi ga ada. Jadilah saya nongkrong di perpus, lalu kepengen menuliskan ini.

Terhitung dari tahun 2006 sampai sekarang, udah 8 tahun berjalan sejak pertama kali saya kenalan dengan ilmu psikologi. Officiallynya 7 tahun untuk kuliah. Karena saya postponed setahun setelah lulus S1 di 2011 dan baru nerusin kuliah lagi tahun 2012. Yah walaupun sekarang udah mau 2015 dan saya masih stuck di tesis ‪#‎mintapukpuk‬

Banyak banget suka dukanya sebagai mahasiswa psikologi. Satu yang menyenangkan, sebagian besar anak psikologi itu cewek. Jadi kalau ngobrol nyambung banget. Adapun teman-teman yang cowok, mereka banyakan ngalah hahaha. Keikut sama kami yang cewek-cewek ini. Kalau kami ngobrol, mereka terpaksa harus mendengarkan. Kalau kami marah-marah, mereka terpaksa harus bersabar. Kalau kami protes, mereka terpaksa harus mengalah. Kalau motor kami mogok, merekalah yang dorong. Hahahaa. Jadi jangan heran kalau lihat mahasiswa psikologi yang cowok-cowok itu pada baik hati semua. Tertular kebaikan hati mahasiswa ceweknya.

Anak psikologi sudah kodratnya jadi tempat sampah. Karena pengalaman sering jadi tempat sampah dan konselor dadakan bagi siapapun ummat manusia yang ga sengaja ketemu di jalan dan pas kenalan tahu kalau saya kuliah psikologi, maka saya kalau kemana-mana suka pura-pura autis. Hehehe, engga ding. Maksudnya cenderung tenggelam di aktivitas sendiri. Biar ga dideketin orang. Bukannya songong apalagi sok ngetop, tapi entah gimana caranya, ummat manusia di luar sana itu bisa loh mendeteksi keberadaan psikolog-psikolog di sekitar mereka. Begitu mereka tahu di dekat mereka ada anak psikologi, langsung dah mereka mengganggap kami ini penyabar laksana Dewi Kwan Im yang siap sedia mendengar segala permasalahan tumpah darah mereka. Padahal kan engga juga. Psikolog, anak psikologi, atau konselor itu cuma manusia biasa. Kami bisa galau, bisa pula alay. Takdirnya aja kami ini kece-kece ‪#‎kibasjilbab‬. Tapi bukan berarti kami selalu full charge untuk jadi tempat sampah orang lain, atau bank solusi untuk permasalahan orang lain.

FYI aja, jadi konselor tuh ga bisa dadakan. Kami para anak psikologi ini, kalau mau praktikum konseling aja persiapannya dari 5 abad sebelumnya. Ga. Itu lebay. Maksudnya kami prepare dari jauh-jauh hari. Mulai dari baca teori, bikin action plan, pelajari teknik konseling, dan lain-lain. Itu susyeeeh. Karena prinsipnya jangan masuk ke kehidupan seseorang kalau kamu engga bisa bantu orang itu untuk nyelesain masalahnya. Konseling itu mirip-mirip operasi bedah. Abis lo bedah, lo acak-acak isinya, harus bisa beresin lagi. Itu.

Jadi anak psikologi juga kadang mengandung beban tersendiri. Terutama dari lingkungan sosial. Orang suka berharap lebih dari seseorang yang belajar psikologi. Kayak yang saya bilang di atas, kami kadang disangka titisan Dewi Kwan Im yang sabaaar banget. Atau titisan pertapa-pertapa yang bijaksana. Waktu di kampus hal ini mungkin ga begitu terasa. Karena rata-rata gaulnya dengan yang seumuran semua. Setelah lulus pasti akan lebih terasa. Terutama kalau kamu cewek, yang notabene akan sering berhadapan dengan ibu-ibu. Ibu-ibu di luar sana tuh ya, saya kasih tahu, hidupnya penuuuh masalah. Hahaha. Kerjaannya curhaaaat melulu. Kalau ga ngomong, capek mereka. Beda dengan bapak-bapak yang cenderung lebih pendiam. Makanya begitu mereka ketemu anak psikologi yang sama-sama perempuannya, siap-siaplah kupingmu panas. Pengalaman saya pernah duduk diam 1,5 jam dengerin emak-emak ngoceh, hahaha.

Capek? Pasti. Tapi kalau kamu anak psikologi yang baik, kamu pasti akan memanjangkan kesabaran, dan membiarkan dirimu mendengar ocehan 1,5 jam emak-emak itu. Karena kamu tahu bahwa 1,5 jam yang kamu dedikasikan untuk menjadikan dirimu tempat sampah seseorang, bisa sangat berarti buat orang itu. Sebab bisa jadi, dia sudah terlalu lama kesepian. Terlalu lama engga punya orang yang bersedia mendengarkan dia bicara. Bahwa dengan bicara itu, kamu berharap dia mendapatkan kelegaannya, dan setelah itu bisa melakukan hal lain dengan penuh semangat. Apalagi karena kamu tahu, sekarang ini betapa sulitnya mencari orang yang mau mendengarkan kita bicara, bukan?

Anak psikologi juga sering dianggap banyak tahu. Ahli masalah hubungan. Untuk persoalan ini, saya sering ngerasa jengah juga. Karena sering dimintai advise sama orang untuk masalah pernikahan dan keluarga. Padahal saya nikah aja belum. Disangkanya orang kalau udah kuliah psikologi tuh berarti kamu udah expert banget. Padahalkan engga. Modal saya cuma kece doang, suerrr. Pengalaman sih nol besar. Cuma menang diteori. Tapi tiap ketemu orang di jalan, dan mereka tahu saya kuliah psikologi, ada dua tema pertanyaan (dan curhat) besar yang akan mereka tumpahkan seketika ke saya: pertama tentang analisis kepribadian, kedua tentang pernikahan. Saking seringnya saya ditanyain tentang 2 hal itu, saya sampai mikir: emang Indonesia ini isinya orang-orang yang bingung sama jati diri dan keluarga mereka yah? Saya kadang suka mesem-mesem kalau harus ngasih advise. Takut kaburo maktan.

Ilmu psikologi ini sebenarnya banyak baiknya kok. Jangan pula dimusuhi 100%. Insya Allah sangat diperlukan untuk perbaikan masyarakat. Jadi buat kamu-kamu yang lagi belajar psikologi, terutama untuk adik-adikku yang masih menimba ilmu di strata satu (ebuset, berasa lagi mau nutup kajian) belajarlah sebaik-baiknya, dik. Tambahkan keilmuan psikologimu dengan pemahaman agama sebanyak-banyaknya. Karena apalah arti banyaknya ilmu dunia yang engkau kuasai, jika ilmu akhiratmu hanya seiprit. Ilmu akhirat itu yang bakal bikin ilmu duniamu jadi punya arah dan tujuan. Ilmu akhiratlah yang akan jadi platformmu dalam mengejawantahkan ilmu dunia. Ingat dik, Allah ghoyyatunna. Kita adalah penduduk surga. Kesanalah kita kan berpulang semoga. Takbir! ‪#‎plisNia‬ ‪#‎apadeh‬ -__-

Yah by the way on the way busway, saya seneng jadi anak psikologi. Cuma kalau sekarang lagi ga seneng aja ngerjain tesis, hehehe.

Kamis, 18 Desember 2014

2014, 2015



             Udah penghujung tahun yah. Ga kerasa bentar lagi 2015. Padahal kayak baru kemarin saya bikin resolusi 2014, sekarang udah harus bikin resolusi 2015 lagi. Kalau nengok ke belakang dan lihat apa yang udah terjadi selama ini, saya sadar tetap harus ada yang disyukuri dari tahun 2014 ini. Sekalipun ada suka ada duka, tetap wajib bersyukur. Alhamdulillah..

            Ga banyak yang bisa saya ceritakan tentang aktivitas akhir-akhir ini. Selain bahwa tesis saya progresnya masih lambat aja kayak siput, heuu. Dan saya engga bisa ngejar wisuda semester ini. Jangankan wisuda, acc bab 1 aja butuh waktu berbulan-bulan. Kabar baiknya, dibimbingan terakhir kemarin alhamdulillah finally dosen pembimbing 2 saya setuju sama variabel yang saya ambil. Alhamdulillah bangeeet setelah 4 bulan lamanya saya dibuat pusing sama beliau, hahaha. Akhirnya berkat ijin Allah via konfigurasi teori, setujulah beliau sama variabel saya itu. Byuuh #lapkeringet

            Sekarang saya harus berjuang lagi untuk bab 1 2 3 yang jalannya masih panjaaang sepanjang jalan kenangan. Saya udah engga lagi bikin target-target macam-macam. Pengalaman bikin target kemarin-kemarin ga kesampaian, jadi sakitnya tuh di sini.. Ada target, tapi engga terlalu mikirin itu.

            Banyak faktor yang bikin tesis ini jadi lambat banget progresnya. Salah satunya dosen-dosen saya yang sibuk abis. Pembimbing 1 baru abis operasi jantung jadi ga boleh terlalu banyak kegiatan. Akibatnya jam bimbingan sama beliau pun berkurang. Dosen pembimbing 2 yang jabatannya merangkap ketua majoring pun sibuk bukan main. Lagi susah banget dihubungin beliaunya. Parahnya saya jadi baru bisa bimbingan 2-3 minggu sekali. Heuu heuu.. #nangisdipojokan. Udah bimbingannya jarang, sekali bimbingan mumet pula, hahaha. Sementara saya masih punya tanggungan bimbingan revisi UP dengan 3 dosen lainnya. Yasalaam.. #pingsan

            By the way on the way busway, sepanjang tahun 2014 kemarin banyaaak banget hal yang saya alami. Yang bikin saya sering tercenung lama, merenung tentang semuanya. Ada yang datang, ada yang pergi. Tahun lalu saya pergi meninggalkan seorang teman karena ketidaksabaran saya. Tahun ini, seorang teman yang pergi meninggalkan saya karena ketidaksabaran kami berdua.

Tahun ini juga, 2 orang sahabat akhirnya menikah. Jadinya saya belajar engga lagi terlalu melibatkan mereka dalam keseharian saya. Sebelumnya kalo ada apa-apa saya bisa dengan nyantainya langsung cerita-cerita. Senggang dikit, sharing sama mereka via WA atau telpon-telponan. Sekarang setelah mereka nikah, banyak hal berubah. Mereka sibuk dengan aktivitas baru dan keluarga baru. Awalnya saya sempet sebel karena ngerasa kehilangan teman. Kok gara-gara mereka nikah jadi jarang ngabarin lagi, jarang sharing-sharing lagi, jarang nanggepin BBM atau WA lagi. Sampai sempet update status BBM: “orang kalo udah nikah tuh jadi suka lupa temen yah. Suami mungkin terlalu menyibukkan.” Hehehe. Iya sih, itu lebay. ABG banget. Tapi efeknya si sahabat jadi ngerasa. Langsung saya diBBMin, hahahaha. Tapi saya sadar mereka udah memasuki fase hidup yang lain. Ga bisa disamain kayak fase hidup saya sekarang. Jadi saya mundur teratur. Ambil jarak seperlunya. Saya tetap ada kalau mereka mau cerita-cerita, tapi engga maksa kalau mereka lebih nyaman diam saja.

Di tahun 2014 beberapa resolusi saya tercapai, beberapa engga. Yang tercapai itu soal masak dan bikin kue, sama travelling ke beberapa tempat. Alhamdulillah saya udah bisa bikin cupcake dan masak-masak dikit. Hahaha, emang masih pemula banget sih. Tapi setidaknya udah jauuuh lebih baik dibanding dulu. Dulu saya masuk dapur aja engga pernah. Sekarang udah bisalah numis-numis apaaa gitu. Terus saya juga udah bisa nyuci dan nyetrika rutin, hahaha. Aib banget yak. Ketahuan banget dulunya ga bisa apa-apa. Sekali nyetrika saya bisa sampai 2 jam. Byuuuh, encok banget dah.

Kalau travelling, tahun ini saya ke Kalsel dan Kaltim. Ke Banyuwangi, ke Kupang, ke Malang, ke Surabaya, dan of course mudik ke Papua, hahaha. Eh itu mah ga termasuk travelling yak, itu pulang kampung. Travellingnya masih dalam rangka mewujudkan cita-cita keliling Indonesia. Tahun depan nanti juga begitu, insya Allah.

Untuk tahun 2015, saya punya beberapa resolusi...

Pertama saya pengen nerbitin novel. Ide ceritanya udah berseliweran bolak-balik di kepala sejak awal tahun lalu. Tapi belum-belum aja dieksekusi. Yaa Allah.., jauhkan hamba dari rasa malas.., hiks. Kedua, saya pengen sidang tesis sebelum bulan mei 2015. Ogaaah saya kalau harus bayaran lagi. 10 jutaku yang berhargaaaa #dramatis. Duit segitu daripada nyumbang-nyumbangin ke Unpad, mending buat modal usaha -___-

Ketiga, sebelum lulus saya pengen travelling ke Sumatra. Tepatnya ke Aceh, Padang dan Belitong. Keempat, kalau belum ditakdirin you-know-what, saya pengen tinggal sama papah. Ngerawat papah semampu saya. Perhaps kita bakal jalan-jalan berdua, datang kajian berdua, buka toko sayur di depan rumah, dan lain-lain. Berbakti ke papah sebanyak-banyaknya. Saya mungkin engga bakal kerja kantoran kayak lulusan S2 lainnya. Engga bakal jadi dosen, atau HRD company, atau apalah gitu yang necis-necis begitu. Saya mau punya banyak waktu di rumah sama papah, nulis, dan ngembangin usaha keluarga..

Jumat, 24 Oktober 2014

Banana Cake (failed..)

Di postingan sebelumnya saya bilang kalo someday pas lagi senggang pengen belajar bikin kue. Ada dua resep kue sederhana yang saya copy dari blog orang. Yang nyenengin dari dua resep itu adalah bikinnya ga perlu pake oven. Cukup dengan si magic: magic com, hehehe. Maklum anak kos. Oven dan perlengkapan masak lainnya itu masih sesuatu yang mewah wah wah buat saya.

Karena udah berminggu-minggu ini saya senggang terus, jadi dua hari lalu belanjalah saya ke pasar dan supermarket. Beli pisang ambon, terigu, gula pasir, soda kue, vanili, susu coklat kental manis dan telor 5 butir. Niatnya saya pengen belajar bikin banana cake alias cake pisang dan choco cake alias cake coklat sesuai resep blog yang saya baca kapan hari.

Sorenya saya langsung praktek bikin banana cake. Ternyata cara buatnya ga sulit. Gampang banget. Ga sampai setengah jam selesailah adonan banana cake pertama saya itu. Terus saya tuang deh adonannya ke wadah magic com, terus dimasukin ke magic comnya. Berdasarkan tulisan di blog itu biar banana cakenya mateng maksimal, minimal sampai 2 kali cook. Okelah, gampang. Maka saya tekanlah tombok cook magic com saya dan tunggu sampai cooknya pindah ke warm. Nanti kalau udah pindah sekali ke warm, saya tekan lagi ke cook. Sambil nungguin banana cakenya mateng, saya tinggal nyuci piring ke kamar mandi (maklum anak kos. Nyuci piringnya di kamar mandi -___-)

Begitu selesai nyuci piring, cook udah pindah ke warm. Saya pencet lagi cook tapi ternyata engga bisa. Entahlah apa yang bikin magic com saya ini engga bisa nge-cook dua kali. Jadi saya akalin pake tisu yang dilipet-lipet terus diganjelin ke tombol cooknya biar ga pindah ke warm. Saya tinggal lagi deh ke kamar mandi.

Begitu selesai dari kamar mandi, saya nyium bau-bau gosong dari arah magic com. Itu magic com udah berasep aja. Tajem banget bau gosongnya. Buru-buru saya buka tutup magic com dan cabut kabelnya. Pas saya liat banana cake saya itu, bagian atasnya sih coklat bagus itu (kayaknya sih..) tapi ada lubang-lubang sesuatu gitu dari si banana cake. Nah bau gosongnya keluar dari lubang-lubang itu. Perasaan saya udah ga enak aja. Langsung saya angkat wadah magic com itu terus saya taroh di atas karpet puzzle gabus saya. Dikemudian saat, saya langsung nyesel udah naroh wadah magic com panas membara ke karpet puzzle itu. Si karpet ikutan gosong -__-

Begitu banana cake pertama saya itu dikeluarin dari wadah magic com, tampaklah sesuatu di atas piring...

Bawahnya si banana cake gosong banget, sodara-sodara! Item! Kan sempet saya foto tuh bawahnya si banana cake terus jadiin DP BBM. Dikomen sama temen saya: itu banana cake? Kirain kopi. Iiiih -__-

Berikut penampakan banana cake pertama saya yang gosong itu:
Mengenaskan banget kan..? Yang sebelah kiri itu bawahnya si banana cake, yang kanan atasnya.

Tapi itu belum seberapa.. Yang paling nyakitin tuh waktu saya cobain rasanya. Daaan, ternyata TAWAR, gusy! TAWAR! Alias ga berasa! Eladalaah, rupanya saya lupa ga masukin gula pasirnya -__- Saya baca ulang resep di blog itu, dan mencocokkannya dengan apa yang udah saya lakuin. Ternyata benar. Saya salah baca. Mestinya yang dikocok dengan telor itu gula pasir. Saya tadi malah ngocoknya dengan tepung terigu. Jadilah banana cake failed yang bantet, gosong, dan tanpa rasa. Rumit yah, iyah. Kayak hidup para jomblo.. Rumit.. #halah #apadeh

Di hari yang sama saya bikin banana cake lagi. Asli masih penasaran. Hehehe, impulsif banget ya. Iya, saya emang impulsifan orangnya.

Dipercobaan kedua ini semuanya berjalan baik-baiknya aja kelihatannya. Adonannya lembut, rasanya pas. Persis banana cake pada umumnya. Problem terjadi tepat setelah si adonan cantik rupawan itu masuk wadah magic com. Si magic com masih saya ganjel pake tisu biar bisa ngecook 2 kali. Saya berharap banget hasilnya bagus. Secara ini menyangkut kredibilitas saya, hehehe lebay ah. Semua tata caranya saya ikutin baik-baik. Saya baca resepnya berulang kali. Saya dzikir-dzikir juga sambil ngaduk adonan, hehe. Tapi rupanya takdir berkata lain.. #halah Banana cake yang kedua ini juga gosong bawahnya, sodara-sodara. Sediiiih banget saya..

Setelah saya telisik rupanya karena emang magic com saya ini ga didesain untuk bikin cake. Di resep yang saya baca, magic com dia yang ukuran besar. Jadi adonannya ga menebal ke atas, tapi melebar ke samping. Jadi bawah dan tengah si adonan bisa matang merata.

Saya mungkin jenis orang impulsif nan perfeksionis yang gemar menuntut diri sendiri.. Sehabis banana cake kedua saya itu failed again, saya sedih banget. Asli kecewa sama diri sendiri. Saya udah sepenuh hati buatnya, udah ngikutin step-stepnya dengan bener, tapi banana cakenya masih failed juga. Emang sih itu banana cake pertama saya, dan pertama kalinya juga dalam hidup saya bikin kue, jadi emang ga bisa kan berharap sempurna untuk sesuatu yang baru pertama dilakukan, tapi tetep aja saya ngerasa kecewa karena udah gagal bahkan untuk hal yang sepele kayak bikin banana cake gitu doang. Orang lain kayaknya fine-fine aja. Saya kok engga bisa.. Saya sampai nangis. Lebay banget yah. Tapi ya gimana, emang gitu yang saya rasain. Nangis jam setengah 1 malam, sampai muka jadi merah-merah ga jelas. Ngerasa ga berguna banget.. Tesis ga jalan, banana cake juga ga bisa buat..